Sore yang dingin di desa yang terbilang jauh dari keramaian,tampak sorang wanita tua sedang membersihkan halaman rumah. Wajahnya yang semakin tua tampak sedih di rautnya. di usinya yang semakin senja masih terlihat semangat untuk bekerja. Tak pernah mengeluh walaupun tubuh semakin kecil dimakan usia. Di teras rumah tampak anak kecil yang sedang asik bermain di usianya yang belia.
Aku berdiri memperhatikan ibuku yang sibuk bekerja. Ku perhatikan ibuku, saudara-saudaraku, sebentar lagi aku akan merantau melanjutkan pendidikanku stelah tamat Sekolah Menengah Atas. Tentu saja aku akan pergi meninggalkan mereka. Sedih, tapi ini harus aku lakukan karena mungkin dengan kuliah di Medan membuatku lebih berkembang dan kritis dalam berfikir maupun bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Namaku Haryati, aku adalah anak tunggal. Aku anak dari keluarga sederhana. Ibuku bekerja sebagai petani di sawah orang. Karena kami tinggal di pesisir, ayahku dulu semasa hidupnya bekerja sebagai nelayan yang gajinya tidak seberapa itu. Akan tetapi aku tidak pernah malu, walaupun hidup sederhana ,tapi kedua orang tuaku berusaha untuk menyekolahkan aku hinga keperguruan tinggi, bahkan aku bias kuliah ke Medan. Orang tua lain belum tentu mampu melakukan apa yang dilakukan oleh ibuku. Ibuku pernah berkata “ kamu harus bersekolah, selagi ibu masih ada tenaga untuk mencari rezeki untuk menyekolahkan mu. Walaupun terkadang mencari uang itu susah, tapi rezeki akan datang dimanapun dan kapanpun selagi kita masih mau berusaha mencarinya”.
Aku bersyukur terlahir dari keluarga sederhana tapi mempunyai semangat berjuang untuk hidup. Ibuku hanya lulusan Sekolah Dasar,tetapi meskipun begitu, ibu tidak ingin aku merasakan apa yang telah dia rasakan.
Selama ini aku tak pernah jauh dari ibuku. Ibu adalah orang yang paling dekat denganku. Aku selalu membantu ibu bekerja. Hari-hari bersama ibu adalah hari yang tak akan pernah terlupakan. Aku sangat bahagia masih bisa melihat ibu hingga sekarang, dan aku berdoa di setiap sepertiga malam dan sangat berharap ibuku bisa melihat anaknya sukses di kemudian hari. Love you Moms.
Tahun 2018 aku lulus dari sekolah menengah atas (SMA) dan itu berarti aku harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.Setelah melihat hasil pengumuman SNMPTN dan alhamdulillah aku lulus di Universitas yang aku pilih. Aku mempunyai kesempatan untuk untuk kuliah di Sumatera Utara yaitu di Universitas Sumatera Utara, Medan. Dari sekolah aku segera bergegas pulang kerumah untuk memberitahukan ibuku kabar bahagia ini. Alhasil ibuku malah tidak setuju untuk aku berkuliah ke Medan dan bahkan dia mengancamku untuk tidak memberi biaya sepeserpun. Ibu marah-marah kepadaku karena aku tidak memberitahunya saat mengisi ptn mana yang aku pilih. Aku menangis dan bersikeras tetap kekeh untuk kuliah di Medan. Untuk mencari biaya berangkat pertama aku meminta pada pamanku. Dengan bahagia dan berlagak sombong aku pulang kerumah dan memperlihatkan kepada ibuku bahwa aku mendapat biaya untuk ke Medan. Hari berganti hari, aku merayu dan meyakinkan ibuku untuk mendapatkan izin kuliah di luar kota. Dan pada akhirnya ibu memberiku izin.
Jauh hari sebelum aku berangkat, ibu selalu mengingatkan aku agar selalu hati-hati di rantauan. Dan selalu mengingat Allah Swt. Banyak sekali pesan ibu untukku selama di rantau orang. Ibu sangat takut terjadi sesuatu kepadaku selama di rantau dan tidak bisa menjenggukku.
Hari-hari sebelum keberangkatanku adalah hari membuatku sangat muram. Mungkin karena baru pertama kalinya aku merantau. Baru pertama kalinya aku aku harus jauh dari keluargaku, sahabat-sahabatku. Makan malam bersama ibu di lantai yang beralaskan tikar membuatku semakin sulit untuk melangkah meninggalkan rumah tempat pertama kali aku mengenal dunia ini. Dirantau mungkin tak bisa seperti itu lagi. Aku harus hidup sendiri, jauh dari semuanya.
Begitu tulus cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya, aku tidak akan pernah mengecewakannya. Aku percaya dibalik kesuksesan seorang anak pasti ada ibu yang terus berjuang di balik layarnya.
Jadi, buat kalian jangan pernah menyakiti hati orang tua kalian apalagi hati seorang ibu dan jangan pernah membuatnya kecewa.