Minggu, 16 Desember 2018

Mengenal psikologi sosial


Psikologi Sosial

Psikologi sosial menjadi akar dan paradigma mendasar ilmu psikologi, dimana psikologi sosial menyentuh semua aspek kehidupan manusia dan bermulti interaksi dengan semua bidang keilmuan yang lain (Soeparno 2011). Psikologi sosial merupakan pokok bahasan dalam sosiologi karena dalam sosiologi dikenal ada dua perspektif utama, yaitu :
1.      Perspektif struktural makro adalah perspektif yang menekankan kajian struktur social.
2.       Perspektif mikro adalah perspektif yang menekankan pada kajian individualistik dan psikologi sosial dalam menjelaskan variasi perilaku manusia.

Di Amerika disiplin ini banyak dibina oleh jurusan sosiologi - di American Sociological Association terdapat satu bagian yang dinamakan ”social psychological section”, sedangkan di Indonesia, secara formal disiplin psikologi sosial di bawah binaan fakultas psikologi, namun dalam prakteknya tidak sedikit para pakar sosiologi yang juga menguasai disiplin ini sehingga dalam berbagai tulisannya, cara pandang psikologi sosial ikut mewarnainya.
Apakah perbedaan di antara Sosiologi dan Psikologi ??
Kita sering berpikir bahwa yang namanya dunia psikologi adalah dunia yang berkaitan dengan persoalan perasaan, motivasi, kepribadian, dan yang sejenisnya. Dan kalau berpikir tentang sosiologi, secara umum cenderung memikirkan persoalan kemasyarakatan. Kajian utama psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental, perilaku, dan dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri manusia sebagai individu. Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi social (Haryanto and Nugrohadi 2011).









DAFTAR PUSTAKA

Haryanto, Dany and G.Edwi Nugrohadi. 2011. “Pengatar Sosiologi Dasar.” Pp. 181–87 in Pengatar Sosiologi Dasar.
Soeparno, Koentjoro. 2011. “Social Psychology: The Passion Of Psychology.” Buletin Psikologi 19(1):16–28.

Semoga postingan kali ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih :)

Selasa, 11 Desember 2018

Ibu, Aku pergi!








         Sore yang dingin di desa yang terbilang jauh dari keramaian,tampak sorang wanita tua sedang membersihkan halaman rumah. Wajahnya yang semakin tua tampak sedih di rautnya. di usinya yang semakin senja masih terlihat semangat untuk bekerja. Tak pernah mengeluh walaupun tubuh semakin kecil dimakan usia. Di teras rumah tampak anak kecil yang sedang asik bermain di usianya yang belia.
        Aku berdiri memperhatikan ibuku yang sibuk bekerja. Ku perhatikan ibuku, saudara-saudaraku, sebentar lagi aku akan merantau melanjutkan pendidikanku stelah tamat Sekolah Menengah Atas. Tentu saja aku akan pergi meninggalkan mereka. Sedih, tapi ini harus aku lakukan karena mungkin dengan kuliah di Medan membuatku lebih berkembang dan kritis dalam berfikir maupun bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

        Namaku Haryati, aku adalah anak tunggal. Aku anak dari keluarga sederhana. Ibuku bekerja sebagai petani di sawah orang. Karena kami tinggal di pesisir, ayahku dulu semasa hidupnya bekerja sebagai nelayan yang gajinya tidak seberapa itu. Akan tetapi aku tidak pernah malu, walaupun hidup sederhana ,tapi kedua orang tuaku berusaha untuk menyekolahkan aku hinga keperguruan tinggi, bahkan aku bias kuliah ke Medan. Orang tua lain belum tentu mampu melakukan apa yang dilakukan oleh ibuku. Ibuku pernah berkata “ kamu harus bersekolah, selagi ibu masih ada tenaga untuk mencari rezeki untuk menyekolahkan mu. Walaupun terkadang mencari uang itu susah, tapi rezeki akan datang dimanapun dan kapanpun selagi kita masih mau berusaha mencarinya”.

        Aku bersyukur terlahir dari keluarga sederhana tapi mempunyai semangat berjuang untuk hidup. Ibuku hanya lulusan Sekolah Dasar,tetapi meskipun begitu, ibu tidak ingin aku merasakan apa yang telah dia rasakan.
        Selama ini aku tak pernah jauh dari ibuku. Ibu adalah orang yang paling dekat denganku. Aku selalu membantu ibu bekerja. Hari-hari bersama ibu adalah hari yang tak akan pernah terlupakan. Aku sangat bahagia masih bisa melihat  ibu hingga sekarang, dan aku berdoa di setiap sepertiga malam dan sangat berharap ibuku bisa melihat anaknya sukses di kemudian hari. Love you Moms.

       Tahun 2018 aku lulus dari sekolah menengah atas (SMA) dan itu berarti aku harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.Setelah melihat hasil pengumuman SNMPTN dan alhamdulillah aku lulus di Universitas yang aku pilih. Aku mempunyai kesempatan untuk untuk kuliah di Sumatera Utara yaitu di Universitas Sumatera Utara, Medan. Dari sekolah aku segera bergegas pulang kerumah untuk memberitahukan ibuku kabar bahagia ini. Alhasil ibuku malah tidak setuju untuk aku berkuliah ke Medan dan bahkan dia mengancamku untuk tidak memberi biaya sepeserpun. Ibu marah-marah kepadaku karena aku tidak memberitahunya saat mengisi ptn mana yang aku pilih. Aku menangis dan bersikeras tetap kekeh untuk kuliah di Medan. Untuk mencari biaya berangkat pertama aku meminta pada pamanku. Dengan bahagia dan berlagak sombong aku pulang kerumah dan memperlihatkan kepada ibuku bahwa aku mendapat biaya untuk ke Medan. Hari berganti hari, aku merayu dan meyakinkan ibuku untuk mendapatkan izin kuliah di luar kota. Dan pada akhirnya ibu memberiku izin.
Jauh hari sebelum aku berangkat, ibu selalu mengingatkan aku agar selalu hati-hati di rantauan. Dan selalu mengingat Allah Swt. Banyak sekali pesan ibu untukku selama di rantau orang. Ibu sangat takut terjadi sesuatu kepadaku selama di rantau dan tidak bisa menjenggukku.

        Hari-hari sebelum keberangkatanku adalah hari membuatku sangat muram. Mungkin karena baru pertama kalinya aku merantau. Baru pertama kalinya aku aku harus jauh dari keluargaku, sahabat-sahabatku. Makan malam bersama ibu di lantai yang beralaskan tikar membuatku semakin sulit untuk melangkah meninggalkan rumah tempat pertama kali aku mengenal dunia ini. Dirantau mungkin tak bisa seperti itu lagi. Aku harus hidup sendiri, jauh dari semuanya.
       Begitu tulus cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya, aku tidak akan pernah mengecewakannya. Aku percaya dibalik kesuksesan seorang anak pasti ada ibu yang terus berjuang di balik layarnya.
 Jadi, buat kalian jangan pernah menyakiti hati  orang tua kalian apalagi hati seorang ibu dan jangan pernah membuatnya kecewa.

Teruntukmu yang pernah membuat luka

   

Ingin sekali aku mengatakan sejujujurnya bahwa sebenarnya hatiku masih ingin memiliki dirimu.
ingin sekali memiliki mu dengan ikatan yang halal. Akan tetapi terkadang hatiku berkata tidak saat aku mengingat luka yang pernah tergores di hatiku. Luka yang masih membekas. Luka dalam yang kau berikan.
Luka yang tak berdarah tapi terasa sangat sakit.

Memang aku yang selalu egois terhadap hubungan ini. akan tetapi kegoisanku sebenarnya hanya untuk membuatmu berubah.
Aku pernah mengatakan kepadamu, aku tidak ingin menjalin sebuah hubungan dengan orang lain. Memang pernah, tapi kau tidak peka akan kata-kata itu.
Kata "tidak akan pernah" itu kulontarkan hanya untuk mengetahui seberapa besar kasih dan sayang mu kepada ku.
Bodoh, ya!
Memang aku yang bodoh, aku yang bodoh karena mencintai seseorang dengan tulus yang pada kenyataannya dia malah sebaliknya.
Cinta bagimu mungkin hanya untuk main-main saja, hanya untuk kesenangan dirimu saja.
Tapi tidak Bagiku.
Aku ingin sekali mencintai seseorang yang layak untuk dicintai dan mencintai ku dengan tulus kasih dan sayangnya.
Dan ingin sekali hanya satu lelaki yang aku cintai dalam hidupku setelah Rasulku dan Ayahku itu adalah Kamu.
Mungkin ini hanya mimpi.
Mimpi yang indah yang pada kenyataannya tidak akan pernah terjadi.